Friday, 9 August 2013

Pulang



Jejak rindu mulai samar
Segala ucap serta laku tak henti menjadi bayang
Satu harap selalu memancar
tak pernah menjadi remang
apalagi pudar

Menanti satu masa
Entah kapan akan menjadi nyata
Jika memang hanya dapat menjadi rasa
Biarlah tetap berwarna
hingga sempurna

Ingat satu janji yang sempat terucap
Bahkan di setiap cakap
tak samar, tak membayang, tak remang
Terang
Masih ingin janji itu terulang
Pulang

Pulanglah, kembalilah
jangan biarkan hati mulai terbelah
Pecah
Rinduku tak terbantah
Rasaku tak lagi mengalah
Pulanglah

Thursday, 8 August 2013

Biar Hatiku Bicara

"Harus berapa kali lagi aku katakan, aku masih sayang kamu. Sampai sekarang," ucapku pada pria yang terus saja menolak untuk melihat ke arahku.

"Cukup!!! Aku tak ingin dengar kata itu lagi! Bisa kamu hilangkan kalimat itu?" jawabnya.

Aku tersentak. Dia, pria yang menemaniku bertahun-tahun. Dia yang tak henti menjadi senja dan fajar untukku. Tega sekali ia bicara dengan nada sekasar itu. Bahkan ia memintaku untuk berhenti mengatakan kalimat kesukaannya. Apa ia sudah berhenti menaruh hatinya padaku? Bahkan tak bersisa? Hatiku seperti di lempar ke pulau terjauh dari tempatku berpijak. Jika memang tak ia berkenan lagi dengan semua ini, biar hatiku yang bicara.

Aku sudah menyanyi
Tapi kau tak lekas menari
Aku pun sudah menangis
Tapi kau tak juga peduli
Haruskah aku menyanyi sambil menangis?

--------------------

"Cukup!!! Aku tak ingin dengar kata itu lagi! Bisa kamu hilangkan kalimat itu?" jawabku.

Astaga. Apa yang sudah aku lakukan? Sentakanku pasti membuatnya terkejut. Maafkan aku, gadisku. Aku pun masih menyayanginya, hingga saat ini. Namun apa yang bisa kita lakukan? Dia sudah mendekati hari bahagianya, cincin akan segera tersemat di jari manisnya. Aku tak ingin merusak segala rencana orang tuanya ini. Sudah tidak seharusnya ia menyayangiku setelah perjodohannya dengan pria pilihan orang tuanya. Jika memang ada tembok yang membatasi kita, biar hatiku yang bicara.

Aku memujanya
Bayang semu yang redup
Namun terang mimpinya, cintanya
Selalu menjadi nyata bagiku
Aku mencintanya
Gadis yang selalu memukau

---------------------

"Maaf," ucapnya lagi.

"Maaf untuk apa? Apa salahmu? Aku yang salah. Aku sudah dipilihkan pria terbaik oleh ibu dan ayah tapi aku masih saja menyayangimu, maaf," jawabku lirih.

"Maaf untuk nada tinggiku, maaf karena aku tak pernah bisa mempertahankanmu, maaf karena aku tak pernah membahagiakanmu," ia berkata tanpa berfikir sedikitpun. Semua mengalir begitu saja.

Aku tak tahu harus bahagia atau sedih. Kalimat terakhirnya membuatku mengerti bahwa ia pun menyayangiku. Aku pun mengerti tak akan ada yang bisa ia lakukan untuk mempertahankanku, sama. Aku tak akan memaksanya, biar rasa ini masih disini. Aku sudah memutuskan, bersama kedua orang tuaku. 

"Tidak. Kau sudah mempertahankanku hingga detik ini. Sadarkah kau selalu menemaniku? Membahagiakanku. Terimakasih karena selalu ada." berjuta terimakasih yang belum terucap, ia pasti tahu.

"Terimakasih sudah mempercayaiku. Berjanjilah padaku kau akan bahagia, bersamanya." pintanya padaku. Mungkin akan jadi permintaan terakhir darinya.

Aku tak kuasa menahan air mata. Sudah cukup rasanya aku mendengar cap cip cup salam perpisahan yang terucap. Aku memeluknya, pria impianku, namun bukan impian orang tuaku. Aku ingin bahagia kali ini, sekali saja. Ia juga pasti bahagia dalam pelukku, ku pertahankan. Biar aku seperti ini terus memeluknya. Biar aku membahagiakannya sementara saja jika tak mungkin selamanya. Biar aku bahagia dengan kecambuk di hatiku. Andai saja kata itu terucap, mungkin bahagiaku kan melebihi segalanya meski nantinya harus berpisah. Tak ada lagi yang mampu ku ucapkan, hanya peluk dan isak tangis.

"Biar hati kita yang bicara," aku putuskan ini kata terakhir dariku, masih menunggu jawaban darinya, pria impianku.

"Aku menyayangimu, hatiku yang bicara," terbata ia mengucapkannya, menyisakan senyum dalam tangisku. 

Aku pun menyayangimu, ucap hatiku tanpa lisanku.

Tuesday, 6 August 2013

Thanks for This

Sore yang perlahan pergi, meninggalkan sisa, jingga. Sayup ku dengar suara angin, menentramkan hati yang tengah cemas menanti. Mengapa ia tak kunjung datang? Lupakah tentang janji hari ini?

"Sayang", suara itu membuyarkan lamunanku. Akhirnya ia datang, terimakasih Tuhan.

Sosok lelaki tinggi dengan kaos hitam, warna favoritnya, datang di hadapanku. Tersadar ada empat mata yang saling menatap dan dua bibir yang tak henti tersenyum. Masih dengan posisi semula, diatas bangku kayu tempat kami biasa berbagi cerita, untuk sekedar menatapnya pun aku bahagia. Tanpa kata, tanpa bicara, tanpa isyarat, mungkin ia tak mengerti betapa berartinya rasa indah ini setiap aku bersamanya, yang ia pahami hanya aku selalu menunggunya datang. 

"Sudah? Berangkat sekarang, sayang?" tanya lelaki kesayangan.

"boleh," jawabku singkat.

Mobil melaju dengan kecepatan rendah, aku masih terus menatapnya, berharap akan ada hari esok untuk kembali menatap teduh matanya. Kami menuju tempat yang ku harap membuatku nyaman untuk berlama-lama di dalamnya.

------------------------

"Assalamualaikum," salamku pada pemilik rumah.

"Waalaikumsalam, oooohh ini pacarnya mas," aku terkejut, ada sosok tampan kira-kira berumur 10 tahun menjawab salamku dengan mata berbinar.

Rupanya ada orang lain yang menungguku, di dalam rumah. Seorang wanita berbadan mungil, cantik, matanya pun mengisyaratkan sesuatu yang aku belum bisa menangkapnya hingga detik ini. Tanpa ku sadari aku melupakan lelaki kesayangan karena terlalu mengalir dalam ombak perbincangan keluarga hangat ini. Dimulai dari pernyataan dan pertanyaan ringan, hingga beberapa pesan untuk kedekatanku dan dia. 

Sudah enam puluh delapan menit aku disini dan masih saja lelaki 10 tahun ini bergelayut manja di lenganku sembari mengajakku bermain. Aku memang tak paham dengan permainannya, tapi aku paham si kecil ini ingin menunjukkan kesukaannya padaku, cerdas. Jam makan malam pun tiba, sejak tadi sampai saat ini, wanita berbadan mungil memberiku sebuah amanah dan aku berharap aku mampu menjalankannya. 

"Iya, begitulah, nak. Sampaikan padanya tentang apa yang saya ingin. Saya harap dia mau mendengarkanmu," ucapnya lirih namun penuh harap.

"InsyaAllah, atas ridho Allah ya, saya akan coba sampaikan," jawabku berharap sedikit menenangkannya.

"Terimakasih," senyumnya tersungging. Ada sedikit lega di hatiku.

"Kalau begitu saya pamit pulang, sampai bertemu lain waktu," balasku sembari berkata dalam hati, -saya akan merindukan keluarga ini-

-------------------------

"Sayang, ada apa? Memikirkan sesuatu?" tanya lelaki kesayangan ini.

"Tidak. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu, amanah, dari bunda dan adik-adikmu, sayang,"

Semua pesan mengalir begitu saja, sedikit nada manja dan merayu berharap ia akan meng-iya-kan permintaan-permintaan ini. Ragu menyapa, masih saja ku lanjutkan demi membahagiakan keluarga yang baru saja ku temui. Aku merasa memiliki tanggung jawab tentang ini. Beberapa kali ia menghela nafas panjang tanda keberatan, aku hanya tersenyum. Sampai aku yakin "iya" darinya bukan hanya sekedar kata. Dan sedikit harap, "Tuhan, bantu aku meyakinkannya. Bantu ia ikhlas".

Perjalanan yang tak seberapa jauh terasa lama karena suasana menegangkan ini. Sedikit perdebatan menghiasi bincang malam. Emosi, cinta, bahagia, harap, cemas, rindu, menyatu dalam hatiku, mungkin juga hatinya. Ku tajamkan mataku ke arahnya yang sedang memperhatikan jalanan, aku suka menatapnya, aku selalu rindu untuk menatapnya seperti ini. Sempat ia bertanya bahagia kah aku? Apa orang tuanya membebaniku? Aku hanya tersenyum. Mataku memancarkan cemas, namun hatiku melompat kegirangan. 

Mobil putih ini berhenti tepat di depan rumahku. Aku tak segera beranjak, masih mencari alasan untuk tetap menatapnya. Menanyakan beberapa hal dan diam, kembali menatapnya. Indah senyumnya, teduh matanya, aku kan segera merindukannya, lagi. Mau tak mau aku harus turun, kembali ke rumah. Namun ia tak tau, aku sudah menuliskan sebuah ringkasan perjalanan untuknya, beserta jawaban-jawaban atas semua pertanyaannya.

"Terimakasih untuk tatap mata yang selalu teduh, untuk senyum yang selalu menenangkan, untuk ucap yang selalu meyakinkan, untuk keluarga baru yang ku sayang sejak aku mengucap salam. Sayang, sampaikan salamku untuk ayah, bunda, dan adik-adikmu. Kau tau, tak ada lagi yang membebani pikiranku. Karena bahagia adalah.....saat aku menemukan keluarga baru yang hangat, saat aku berbincang dengan dua adikmu, saat dapat menyayangi bukan hanya pribadimu tapi juga keluargamu. Terimakasih untuk malam yang indah ini."

Berharap lelaki kesayangan lekas membacanya dan tersenyum lega setelahnya. Tuhan, terimakasih untuk nikmatMu yang luar biasa ini. Aku bahagia.

Saturday, 27 July 2013

Question!!!

"Kakak, nanti setelah belajar, temani ibu belanja ya, nak," ucap ibu.

"Ya, bu."

Panas sekali rupanya hari ini. Harus berdiri belasan menit untuk menunggu angkutan yang akan membawaku dan ibu ke pasar datang. Sudah delapan belas tahun usiaku, namun ibu selalu menggenggam tanganku sepanjang jalan. Seakan begitu takut kehilangan aku. Jika aku mengeluh karena merasa diperlakukan seperti anak kecil, ibu selalu menjawab ibu tak ingin kehilangan harta yang paling berharga. Kami memang tinggal berdua di rumah, aku dan ibu. Tatap dan ucap yang selalu meneduhkan dari ibu tak pernah henti ku nikmati setiap harinya. Wanita yang tak pernah henti menyunggingkan senyumnya untukku. Disini aku teringat pada tanya dan gores yang pernah ada dalam diriku.

--------------------------

Siapakah dia?
Tak pernah ada gambarnya 
Bahkan tak tersebut namanya
Kapan aku dapat bertanya?
Dan akankah aku mendapat jawabnya?
Mungkin..
Siapakah dia?
Ijinkan aku menjadi pemujanya
Menjadi seorang yang mengaguminya
Merasa aman berada di dekatnya
Ijinkan aku tau jawabnya,
nanti

--------------------------

Menyusuri tempat kesukaan para ibu ini, aku suka. Hingga penuh keranjang kami, hingga lelah kaki kami, hingga naik semangat kami untuk segera sampai di rumah dan mengolah semua bahan ini. Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah, namun tanya ini terus berkeliaran di sarang pikiranku. Ku lihat wajah ibu yang masih tersenyum sembari merebahkan badan di sofa depan.

"Ibu, boleh kakak bertanya sesuatu, bu?"

"Boleh, tumben anak ibu ini serius sekali. Ada apa? Sini," kata Ibu sembari menggeser posisi duduknya dan menggenggam tanganku.

"Ibu, boleh aku tau, siapa ayahku?"

Ada kecemasan di wajahnya, berubah menjadi raut sedih. Lalu ibu memelukku.Lama sekali ibu menjawab pertanyaan ini. Aku masih menunggu, dan merasakan ada air jatuh di pundakku. Ku lingkarkan tangan pada tubuh ibu, dan meminta maaf dalam hati. 

"Maaf, nak. Ibu terlalu liar untuk tau siapa, lelaki mana yang sebenarnya ayahmu. Maafkan ibu"

Monday, 22 July 2013

Hampir Genap

Yogyakarta, kota yang selalu istimewa dan penuh kenangan. Disini, kota yang bisa disebut sebagai ibukota kebudayaan, aku singgah untuk sebulan. Tidak terasa sudah dua puluh delapan hari aku disini, tinggal dua hari lagi. Ada rasa bahagia aku menyambut tanggal kepulanganku, ke rumah. Ada juga rasa sedih harus meninggalkan kota ini dan semua yang sudah menemaniku disini, juga pekerjaan yang sudah mulai aku nikmati. Dilema, pulang atau tidak, pulang atau tidak. Ah pulang saja lah. Aku rindu rumah, mama, papa, mbak dan adek. Sering sekali aku mengeluh ke beberapa teman bagaimana inginnya aku pulang, bagaimana rindunya aku pada kota pahlawan, Surabaya. Bukan karena aku tidak betah disini, aku sangat betah, cuma rinduku lebih mendesak di hati.

Hampir genap sebulan aku tinggal di rumah Mba Nurul. Teringat sebulan lalu waktu Mba Nurul mengatakan aku tinggal di rumahnya saja, Mba Nurul tidak mengijinkan aku untuk kos disana. Dua puluh enam hari aku tinggal bersama Mba yang baiknya luar biasa ini. Makan berdua, berbagi cerita, hampir setiap hari Mba Nurul antar-jemput aku ke tempat kerja. Aku merepotkan ya Mba, hhehe.. Dan beberapa pertanyaan dari Mba Nurul yang akan selalu ku ingat :

1. Besok masuk jam berapa, dek?
2. Pulang lebih cepat atau ontime?
3. Ada rencana atau rikues kemana hari ini?
4. Deymen, mau makan apa hari ini? Ada rikues?
5. Buka puasa dan makan di rumah atau sama yovi nuno (sebutan untuk dua     temanku dari Surabaya) ?
6. Dek, mulih dewe sanggup?
7. dan masih banyak pertanyaan yang belum tertulis disini. #nahanAirMata




Hari-hari sebelum mulai magang, aku dan Mba Nurul menyempatkan diri mengunjungi pantai di Gunung Kidul. Sudah kami bawa bekal dari rumah, air putih gelasan, hanya segelas untuk berdua, coklat, puding buatan Mba Nurul, krupuk. Subhanallah, bahagianya aku hari itu dan berharap Mba Nurul bahagia juga. Terimakasih Mba sayang. Di perjalanan pulang, kita berhenti di Bukit Bintang, berharap bisa melihat kota Yogyakarta di malam hari. Tapi begitu mendengar adzan maghrib, sebelum gelap, kita memutuskan untuk turun, mencari masjid. Mungkin nanti kalau aku sudah pulang, aku akan rindu momen ini. Apalagi di hari terakhir Mba Nurul jemput aku kerja, Mba Nurul bilang "dek, nanti kalau ke jogja lagi, berangkat pagi ya. sampe sini siang, sorenya kita ke bukit bintang". Aaaahhh Mba Nurul, akan kangen Mba pasti, pasti.

Ingat kalau Mba Nurul masak, aku tidak boleh sedikitpun mendekat, grogi mungkin. Tapi akhirnya kita masak kue berdua, dilengkapi lagu dari handphone Mba Nurul, serasa sedang main film. Tidak lupa juga acara buka bersama di rumah Mba Nurul, kita membagi tugas. Alhasil persiapan masak yang dimulai dari malam sebelumnya, pagi-pagi ke warung membeli sayuran dan bahan lain, sampai selesai semua jam 4 sore. Aku bahagia, sungguh. Menjelang maghrib mulai berdatangan orang-orang hebat lainnya, Mba Helley, Mba Kiki dan Dek Nada, Dek Reiny, Hanif, Mas Dhanny, Mas Ndaru, Adi, Yopi, dan Ersyad. Makan besar di rumah Mba Nurul, indahnya sore itu, 16 Juli 2013.

Hampir genap satu bulan aku bersama Mba Nurul, hampir genap sebulan aku diYogyakarta yang selalu istimewa ini, dan sudah genap kebahagiaanku disini. Mba Nurul, aku pasti kangen sama Mba. Terimakasih untuk hampir genap satu bulan ini, maaf untuk salahku selama di rumah. Mba Kiki, Nada, Mba Helley, Dek Reiny dan yang lain, terimakasih mau direpotkan dengan kehadiran Intan di Jogja. Dua hari lagi aku pulang, dan aku akan merindukan kalian, sangat. Terimakasih


Tulisan ini terinspirasi dari rasa terimakasih, haru dan bahagia ku selama di Yogyakarta. terimakasih Mba Nurul. Terimakasih teman-teman. Intan pasti rindu kota istimewa ini. Intan tunggu kalian di Surabaya. :')

This is not What I Want

Bandara Soekarno-Hatta, 21 Juli 2013.
Bismillah, untuk tugas mulia aku beranjak pagi ini dari kota yang penuh sesak. Pekerjaan yang mewajibkanku pergi dari kota satu ke kota lainnya. Disini, disampingku, biasanya ada seorang gadis yang menemaniku. Namun pagi ini aku hanya bisa mengirimkan sebuah pesan padanya, setelah tak terhitung berapa lama aku tak berbincang dengannya.

"Gue berangkat. Elu baik-baik di Jakarta. see you"
Message Sent.

Pesawat sudah mulai menuju ke atas awan, pikiranku masih saja di daratan, tertuju padanya. Sudah dua tahun aku mengenalnya, menghabiskan waktuku bersama gadis lucu ini. Seakan semua tawaku hanya karenanya dan untuknya. Semua cerita, peluk, kecup, beserta segala pelengkapnya memenuhi otakku siang ini, di atas awan. Tak sampai sepuluh menit segala keindahan itu berlalu-lalang, serasa dihentak bahwa setelah beberapa menit aku mengirim pesan, aku belum juga menerima balasan darinya. Ya, ini yang terjadi pada kami.

Yang dahulu tak lagi terjadi sekarang, kedekatan kami tak lagi menjadi bahagia. Dunianya bukan lagi duniaku. Entah siapa yang mulai menjauh, ini terjadi begitu saja. Bahkan ada perjanjian pada diri sendiri untuk melupakannya, begitupun pada dirinya demi menghargai privasi masing-masing. Masih di atas awan, ku buka album kesayanganku, untuk meninggalkannya di ruangan pun aku tak sanggup. Satu per-satu foto ku dan dia menghiasi penglihatan, betapa bahagianya saat itu, dan tentramnya hatiku saat ini. Lagi-lagi hanya bertahan sebentar. Tanpa ku sadari ada airmata, aku merindukannya, gadis lucu yang pelukannya selalu menghangatkanku. Sekarang dia punya bahagianya, begitupun aku, sama. Tapi aku masih terus memikirkannya dan berharap dia merindukanku juga. Bukan aku tak ingin bersamanya, ada orang lain yang harus ku bahagiakan disana, rumah. Aku sudah berjanji untuk pulang, untuk menjalani bahagiaku yang lain di rumah.

Pesawat sudah kembali ke haluannya, ke daratan dimana pikiranku selalu berpijak. Masih saja aku menunggu balasan darinya. Mungkin dia akan memberiku pesan lagi untuk menjaga kesehatan, untuk berhati-hati, makan tepat waktu, istirahat cukup dan cepat pulang. Potongan lagu Talking To The Moon mengalun, ah akhirnya dia membalas pesanku. Secepat kilat ku buka pesan darinya.

"Mana undangan nikahan lu buat gue? Ga ada?"

Damn! Bukan ini yang ku ingin. Hari bahagiaku tinggal tiga minggu lagi tapi aku masih saja tak sanggup menuliskan namanya di samping tulisan "kepada". Aku masih ingin menuliskan namanya bersanding dengan namaku. Entah apa yang harus aku katakan. Maafkan aku.

Sunday, 14 July 2013

Mantan Dermawan Negeri

Sial!! Mereka pikir mencari uang itu mudah? Masih memakai uang orang tua saja sombong sekali. Hey, nak, nanti saat kau sudah besar, kau akan mengerti bagaimana susahnya mencari seribu rupiah. Kau akan tau susahnya berfikir untuk membayar hutang-hutangmu. Lihat saja. Janganlah kau sombong sekarang. Ah sudahlah, biar mereka bersenang-senang dahulu. Mungkin mereka masih membanggakan putih abu-abunya.

Rentetan produsen asap masih saja bertahan di posisinya. Tapi aku, di antara langkahku sepagi ini, sudah ingin saja rasanya ku kibarkan bendera putih tanda menyerah. Tak apa, aku masih terus berjalan. Berusaha melanjutkan hidup, meski tak selalu aku mendapat yang ku inginkan. Debby menungguku, membawakan si pengisi perut. Bersabarlah, aku kan pulang dan membuat bentuk bulan sabit pada bibirmu. Masih terus menopang tubuhku, membebani kedua kaki dengan keinginanku untuk terus dan terus berjalan mencari mereka yang lain. Di depan sana, ya aku melihatnya. Irama laju langkahku sendiri dapat ku dengar, dan..sampai. Belum aku mengatakan sesuatu atau melakukan apapun, mereka melambaikan tangan dan berlalu.

Terkutuk kau! Begitu hinanya aku di matamu kah sampai kau menjauh tanpa sedikitpun tanda?? Bahkan salah satu dari kalian menutup hidung. Sialan! Awas kau! Nanti, lain kali kau bertemu aku, akan ku tutup hidungku dan ku ludahi wajahmu! Jijik aku melihatmu. Congkak! Jangan kau terus berjalan sembari mengangkat dagumu. Apa yang kau lihat? Langit? Tinggi nian, padahal ada tanah, sudah kau injak namun tak pernah kau lihat. Cuih! Persetan dengan kelakuanmu!

Sudah berubah warna bajuku karena keringat, basah. Masih saja si kanan kiri mengayun bergantian demi susur kota, untuk Debby. Tap Tap Tap. Terus dan terus irama kaki itu yang menjadi idolaku, setiap harinya. Masih mencari, masih semangat, meski tak ada lagi senyum tersungging. Hobi sekali penerang bumi ini membuatku basah karena panas dan keringat. Ku cari bangunan dengan jam atau apapun yang membuatku tahu jam berapa sekarang. Hari ini, aku melewati jalur yang berbeda, mungkin saja peruntunganku juga berbeda. Semoga. Gedung yang aku cari ada di seberang sana rupanya. Tapi ada yang mencuri mataku, segerombol orang berkelas dan barisan rapi puluhan mobil kinclong. Aku lupa sejenak tentang jam dinding dan dengan senyum ku beranikan diri menghampiri mereka. Lagi, bukan cuma lambaian tangan tapi juga cemoohan kali ini. Begini katanya "mba, mba, mbok ya kerja yang bener. Jangan cuma tangan dibawah. Nanti hak saya jadi punya kamu dong." Lalu pergi.

Brengsek!! Kau yakin itu hakmu? Hah? Bajingan kau! Sudah merasa jadi Tuhan rupanya. Baru jadi bawahan presiden saja sombong kali kau. Bajingan! Aku mengambil hakmu? Hak berapa orang di negeri ini yang kau ambil? Berapa kawanmu sudah masuk jeruji besi karena mengambil hak KAMI??!? Tapi ku lihat tak satupun kawanku mengikuti jejak kalian meski katanya kami mengambil hak kalian. Terus saja kau banggakan jas dan mobil mewahmu! Kau pikir lapangan pekerjaan di negara ini sudah sepadan dengan penduduknya? Kalau iya, mengapa kami tak mendapat? Mengapa kami masih saja menjadi sampah masyarakat seperti ini? Hei, para pemimpin negeri, banyak anak negara yang kau acuhkan! Ingat itu!

Aku hapus lusuh noda di bajuku, sedikit bermain mata dengan saku yang mendapat rezeki dari dermawan pagi tadi. Lima ribu rupiah. Lupakan setan-setan negeri itu, aku harus pulang. Debby, malaikat kecilku, ibu pulang nak. Membawa sesuatu untuk dicerna oleh perut mungilmu. Ibu pulang, nak.