Wednesday, 19 June 2013

ada

nama. rasa. cinta. harap.
sepasang mata indah
namun tak lagi menentramkan
maafkan aku, jika perlahan...
perlangkah..dan akhirnya hilang
aku tak punya alasan lain
hanya nama. rasa.
cinta. dan harap
serta setitik pendar cahaya ruang.
ah, mengungkap pun aku tak mampu
dan berkata pun lemah
untuk apa aku ada? bertahan?
aku tak mencarinya,
aku ada untuk bahagia

-masih untuk adek sarjana tulis-

Tuesday, 18 June 2013

kita

nama dan rasa
nama dan mata
kau dan hati
aku dan kebenaran
siang pun menertawai kita
mungkin aku kan mundur
...mengikuti jejakmu, bukan?
tatap mata nanar, kosong menjadi kawan
aku sudah mundur selangkah, dulu
dan selangkah sekarang
tinggal berapa langkah tersisa?
seperti permainan saja rasanya
hey, sudahlah.
jumpa kita kan menjadi tawa yang lebih
lebih lucu, ah bukan. lebih indah
terimakasih sudah berbagi
dan ini keputusanku, juga kamu
bukan dia...atau dia yang lain

-buat adek tersayang, tetep senyum :)-

Wednesday, 12 June 2013

act

and i believe a fantasy
of a rainbow
and some nice glossy
of a dropping snow
in this world
I try to read
and through the word
i act to write
give me a reason to stop
or i will go ahead
i don't want to be dropped
even when i am mad
tell me a story of love
i will always keep listening
and by the time i laugh
i will keep moving

Tuesday, 11 June 2013

Untuk si Pria Menyenangkan

Pejamkan mata saat diri telah lelah
Menanti waktu tuk bermanja dengan malam
Tak ada lagi benci dan amarah
Sudah bukan pula waktu tuk bermuram
Rebahkan badanmu dalam dekap rembulan
Hingga pada saat kau buka mata
Kau temukan lagi kegembiraan
Dan mereka yang selalu kau cinta
Ucapkan terimakasih dan syukurmu
Agar Allah senantiasa melindungi
Doakan diri dan orang terdekatmu
Dan jangan pernah lelah tuk saling menemani
Selamat malam, pria yang menyenangkan
Nyenyaklah dalam tidurmu beserta seluruh harapan

Friday, 7 June 2013

Terlahir, Belajar, dan Melanjutkan Hidup

Dua puluh Tahun lalu, seorang wanita hebat berusaha mempertahankan hidupku agar aku dapat menikmati indahnya dunia dengan setiap hela nafasku, Mama. Selama dua puluh tahun pula mereka, dua orang yang sangat tegar menanggung kehidupanku dan segala keluhanku tanpa meminta balas, Mama dan Papa. Ada seorang yang lahir lebih dulu daripada aku dan ia salah satu motivasiku untuk menjadi lebih baik hingga saat ini, Mbak Ciquita. Dan seorang lagi yang melengkapi kebersamaan kami dua tahun setelah aku lahir dan ia menjadi semangatku untuk terus berjuang selama ini, Dek Aldo. Ya, mereka yang selalu ada untukku dan aku yang hampir mengabaikan mereka karena kesibukanku, namun mereka selalu mendukungku. Bersyukur aku berada diantara keluarga yang hangat ini.

Sebenarnya aku dan saudara-saudaraku dilahirkan ditengah keluarga yang cukup mampu, namun begitu hebatnya Mama Papa untuk membiasakan anaknya berjuang hidup. Ada beberapa kejadian yang akan selalu ku ingat seumur hidupku. Dimulai dari kejadian-kejadian kecil untuk tetap sabar, berjuang untuk mendapatkan sesuatu, sampai belajar bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Itu semua sungguh berarti dan semoga banyak orang tua diluar sana yang juga menerapkan cara ini agar dapat dikenang dan diterapkan oleh anak-anak mereka.

Cerita pertama adalah saat aku atau kedua saudaraku tersandung atau semacamnya. Disini hebatnya Mama yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak dendam pada apapun dan siapapun. Baru ku sadari saat melihat orang tua lain mengatakan "ah mejanya nakal, ayo dipukul", tapi Mama tidak pernah mengatakannya. Aku ingat, Mama selalu mengatakan padaku "nah, kenapa mbak? lain kali lebih hati-hati ya nak, biar ngga kesandung lagi". Sungguh mujarab kata-kata itu sehingga aku tidak menangis terlalu lama karena harus berfikir dahulu mengapa aku terjatuh, bagaimana bisa tersandung, dan sebagainya. Sehingga tidak perlu bagi kami menyalahkan apa yang ada di sekitar kami sebelum introspeksi diri sendiri, dan semoga itu masih kami lakukan sampai saat ini.

Cerita kedua adalah dimana Mama Papa selalu membiasakan kami, anak-anaknya, untuk bersabar dan mengerti keadaan orang tua. Hm... Namanya saja anak kecil (dulu) pasti banyak maunya, mainan, makan diluar, dan lain-lain. Sempat aku merasa iri pada teman-temanku yang lain dimana semua keinginan mereka selalu dituruti oleh orang tuanya. Apapun yang mereka minta pasti dibelikan, kemanapun mereka mau pasti dilaksanakan oleh orang tua mereka, tapi aku? mbak? adek? Tidak semudah itu. Hampir setiap kami meminta sesuatu, kami harus menunggu terlebih dahulu. Mama Papa selalu berkata "nanti ya mbak, dek, mama papa belum ada rezeki", atau "waahh yuk bantu mama beres-beres meja biar dapet uang jadi bisa beli mainannya". Ah, kenapa tak langsung saja Mama Papa belikan apa yang kami inginkan. Setelah menginjak usia remaja, aku baru tahu mengapa Mama Papa berlaku seperti itu, ternyata Mama Papa ingin kami tidak menjadi anak yang manja. Mengajarkan kami untuk bersabar dan berjuang untuk mendapatkan apa yang kami inginkan.

Cerita ketiga ini sedikit menggelitik sebenarnya bagiku, karena kejadian ini bisa dikatakan lucu namun mendidik. Lagi-lagi Mama Papa mengajarkan kami sesuatu melalui "kesulitan". Saat itu aku dan Mbak berada di bangku SMP, dan sedang gencar-gencarnya memakai telepon rumah berlama-lama (entah aku lupa siapa yang ku telepon saat itu, begitupun Mbak). Sampai pada akhir bulan, tagihan telepon tak terduga, jauh diatas batas normal pemakaian biasanya. Saat itu Mama Papa tak langsung membayar tagihannya, namun kami didudukkan dan diberi pengarahan bahwa Mama Papa butuh telepon rumah namun mereka tidak mampu membayar tagihan dengan jumlah yang begitu besar. 

Tebak apa yang kami lakukan. Kami masuk ke dalam kamar, berfikir apa yang harus kami lakukan untuk membayar tagihan telepon. Kami, aku, mbak, dan adek, melihat sekeliling kamar. Lalu kami menemukan buku-buku yang sudah tak terpakai namun masih banyak kertas kosongnya. Akhirnya kami menyobek kertas-kertas itu dan menjadikannya kertas buram lalu kami jual ke teman di sekolah. Nah, kejadian lucunya adalah aku ingin cepat bisa membayar telepon karena Mama Papa membutuhkan telepon itu. Aku berfikir bagaimana caranya agar kertas buram ini habis dalam sehari. Alhasil aku membagikan kertas-kertas itu pada teman-teman sekelas ku. membiarkan mereka mengambilnya, mencoretnya. dan setelah seluruh teman menggunakan kertas itu, karena kebetulan hari itu pelajaran matematika, aku meneriaki mereka "aaaaa kenapa dicoret-coret??? itu kan aku juaaaalll. ayo bayar".. haha. Dan mereka pun (dengan terpaksa) membeli kertas buram buatanku. Tak lama, kami mengumpulkan uang hasil jualan kami dan memberikannya pada Mama Papa untuk membayar telepon.

Masih banyak lagi cerita tentang perjuangan hidup bersama Mama Papa, Mbak dan Adek yang tak akan ku lupa. Menjual nasi goreng di sekolahan dengan harga 1000 rupiah, saling menyemangati selama di rumah sakit selepas kecelakaan itu. Keluarga ini tak pernah membiarkan anggotanya merasa susah tanpa senang setelahnya. Dan kini aku percaya bahwa Keluarga akan selalu ada dan akan selalu menjadi tempat untuk pulang dalam situasi seburuk apapun. Terima kasih Mama Papa, aku ada karena Mama Papa dan semoga aku dapat mempersembahkan hidupku untuk Mama Papa pula. Akan selalu ku ingat semua cerita indah kita Mbak dan Adek, aku sayang kalian. :')

Thursday, 23 May 2013

untuk si gadis dan kalian yang sedang rindu


Aku pernah tertawa karena rindu, pernah pula aku menangis karena tak dapat menahan rasa ini. Entah aku memungut rindu dimana, tapi aku tak sekalipun mampu melemparnya jauh dari ku. Aku sering merasa rindu saat aku lama tak berbincang dengan mereka yang dekat denganku. Dan sepertinya ini tak hanya terjadi padaku. Yaa..

Malam ini seorang gadis menyapaku lewat pesan singkat dan aku mencoba menyapanya lewat media yang lain, meski sama-sama berbentuk tulisan. Ku coba tanya apa ada yang mendesak untuk dibicarakan, mungkin tidak. Gadis ini rupanya sedang merindukan beberapa orang tercinta. Dia bertanya apakah aku mengijinkannya untuk meneleponku atau tidak, ah maaf maaf dan maaf sepertinya aku tidak bisa berbincang malam ini karena beberapa alasan. Maafkan aku, hey kamu. Tapi aku masih mencoba menguatkan fisik untuk sedikit membaca keluh kesahnya atas satu rasa yang sungguh tak bisa dia pendam terlalu lama. Awalnya, ia sampaikan bahwa ia sedang sangat merindukan saudara yang dekat dengannya. Lalu entah apa yang mempengaruhinya, ia mulai menangis dan berkata "ada banyak rindu dan banyak hal yang ingin ku sampaikan, mbak" , lalu ia menangis. Sudah di ujung mata pula air mataku, tapi ku coba untuk tetap menguatkannya.

Mungkin aku tak dapat menenangkannya, aku hanya bisa berkata bahwa tak ada yang perlu ditangisi atas rindu ini. Hanya perlu diyakini bahwa akan ada berjuta perbincangan dan pertemuan yang lebih berkesan sehingga tak kita sesali rindu ini. Kami (yang ia rindukan) dan dia hanya sedang berada di pilarnya masing-masing. Bukan terbatasi, hanya saja ada sesuatu diluar "kita" yang bisa kita nikmati, bahkan yang belum pernah kita duga sebelumnya. Dan satu lagi, percayalah Allah punya cara dan waktu sendiri untuk membahagiakan hambaNya dan Allah tidak pernah terlambat. 


Ada satu bagian dari bincang kita malam ini yang membuatku ingat kejadian malam itu. Entah apa yang membuatku masih terjaga hingga dini hari, lalu ku lihat layar telepon menyala dengan nama si gadis. Aku menjawabnya, namun kita hanya saling sapa lalu mengakhiri panggilan itu. Tepat di saat itu aku membuka salah satu akun nya, lalu ku selipkan namanya dalam doa menjelang lelapku.Dan ternyata, disana ia pun mendoakanku. Dan malam ini ia berkata padaku, ia hanya butuh bertegur sapa denganku malam itu, karena setelah menutup panggilan itu, ia langsung pejamkan mata dalam pelukan malam.

Lagi, ku luangkan sedikit waktuku untuk membaca ceritanya. Ah, kamu hey gadis, tidak ada yang perlu ditangisi. Kamu sedang berada di pilar yang begitu indah dan kamu seharusnya sadar betapa hebatnya kamu dan hari-harimu belakangan ini di tengah rindumu. Tanpa kau sadari kau menikmati apa yang kau lakukan, sungguh, aku dapat membacanya dari tulisanmu. Betapa nikmatnya hal-hal yang kau lalui bersama mereka. Perlu kau tau, "setidaknya dengan meluangkan waktu untuk keluar dari area mu meski sejenak , kau dapat menemukan hal-hal baru yang menarik dan menyenangkan yang tentu belum pernah kau duga sebelumnya".

Berbahagialah, hey yang sedang berputar di sekitar rindu di pilarnya masing-masing.

Sunday, 19 May 2013

aku dan realitaku

Kekuatan untuk mencintai
Merupakan anugerah Tuhan yang paling berharga bagi manusia
Anugerah itu tidak akan pernah dicabut
Dan merupakan berkah bagi orang yang dicintai

Cinta bersemayam dalam jiwa
bukan dalam tubuh
Dan layaknya anggur
Cinta akan memacu diri kita
untuk menyambut anugerah dari kesuciannya

                        -Kahlil Gibran-

------------------------------------------------------------
Aku ingin seperti burung
Agar aku bisa terbang melayang bersamamu
Aku ingin seperti mentari
Agar aku dapat terus bersinar untukmu dan cintamu
Aku ingin seperti bulan
Agar aku selalu menemanimu di kelamnya malam
Aku ingin seperti batu karang
Agar aku dapat melindungimu dari ganasnya dunia
Aku ingin seperti sehelai selimut
Agar aku yang selalu menghangatkanmu
Aku ingin seperti seorang pujangga
Agar aku dapat membuatkan syair indah untuk selalu kau nikmati

Aku tak dapat mempercayainya
aku tak tau dimana harus memulainya
sangat banyak khayalan tertanam jauh di diriku
Ada sesuatu yang penting untuk kau ketahui
.....sekarang dan selamanya
aku kan berdiri disini
menunggu dan tak kan menyerahkan ke-putus-asa-an-ku
terhadap dorongan hatiku padamu
Mencoba membuatnya bersinar
Mungkin suatu hari kau kan mengerti
sekarang dan selamanya, aku tetap disini

Yang ku katakan padamu dapat kau lihat
Cinta mempunyai arti saat kau bersamaku
Dan sekarang,
tak ada yang mampu menenangkanku disini
dan aku membutuhkanmu
di dinginnya realitaku

            -Intan Puspakirana-