Friday 7 June 2013

Terlahir, Belajar, dan Melanjutkan Hidup

Dua puluh Tahun lalu, seorang wanita hebat berusaha mempertahankan hidupku agar aku dapat menikmati indahnya dunia dengan setiap hela nafasku, Mama. Selama dua puluh tahun pula mereka, dua orang yang sangat tegar menanggung kehidupanku dan segala keluhanku tanpa meminta balas, Mama dan Papa. Ada seorang yang lahir lebih dulu daripada aku dan ia salah satu motivasiku untuk menjadi lebih baik hingga saat ini, Mbak Ciquita. Dan seorang lagi yang melengkapi kebersamaan kami dua tahun setelah aku lahir dan ia menjadi semangatku untuk terus berjuang selama ini, Dek Aldo. Ya, mereka yang selalu ada untukku dan aku yang hampir mengabaikan mereka karena kesibukanku, namun mereka selalu mendukungku. Bersyukur aku berada diantara keluarga yang hangat ini.

Sebenarnya aku dan saudara-saudaraku dilahirkan ditengah keluarga yang cukup mampu, namun begitu hebatnya Mama Papa untuk membiasakan anaknya berjuang hidup. Ada beberapa kejadian yang akan selalu ku ingat seumur hidupku. Dimulai dari kejadian-kejadian kecil untuk tetap sabar, berjuang untuk mendapatkan sesuatu, sampai belajar bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Itu semua sungguh berarti dan semoga banyak orang tua diluar sana yang juga menerapkan cara ini agar dapat dikenang dan diterapkan oleh anak-anak mereka.

Cerita pertama adalah saat aku atau kedua saudaraku tersandung atau semacamnya. Disini hebatnya Mama yang mengajarkan anak-anaknya untuk tidak dendam pada apapun dan siapapun. Baru ku sadari saat melihat orang tua lain mengatakan "ah mejanya nakal, ayo dipukul", tapi Mama tidak pernah mengatakannya. Aku ingat, Mama selalu mengatakan padaku "nah, kenapa mbak? lain kali lebih hati-hati ya nak, biar ngga kesandung lagi". Sungguh mujarab kata-kata itu sehingga aku tidak menangis terlalu lama karena harus berfikir dahulu mengapa aku terjatuh, bagaimana bisa tersandung, dan sebagainya. Sehingga tidak perlu bagi kami menyalahkan apa yang ada di sekitar kami sebelum introspeksi diri sendiri, dan semoga itu masih kami lakukan sampai saat ini.

Cerita kedua adalah dimana Mama Papa selalu membiasakan kami, anak-anaknya, untuk bersabar dan mengerti keadaan orang tua. Hm... Namanya saja anak kecil (dulu) pasti banyak maunya, mainan, makan diluar, dan lain-lain. Sempat aku merasa iri pada teman-temanku yang lain dimana semua keinginan mereka selalu dituruti oleh orang tuanya. Apapun yang mereka minta pasti dibelikan, kemanapun mereka mau pasti dilaksanakan oleh orang tua mereka, tapi aku? mbak? adek? Tidak semudah itu. Hampir setiap kami meminta sesuatu, kami harus menunggu terlebih dahulu. Mama Papa selalu berkata "nanti ya mbak, dek, mama papa belum ada rezeki", atau "waahh yuk bantu mama beres-beres meja biar dapet uang jadi bisa beli mainannya". Ah, kenapa tak langsung saja Mama Papa belikan apa yang kami inginkan. Setelah menginjak usia remaja, aku baru tahu mengapa Mama Papa berlaku seperti itu, ternyata Mama Papa ingin kami tidak menjadi anak yang manja. Mengajarkan kami untuk bersabar dan berjuang untuk mendapatkan apa yang kami inginkan.

Cerita ketiga ini sedikit menggelitik sebenarnya bagiku, karena kejadian ini bisa dikatakan lucu namun mendidik. Lagi-lagi Mama Papa mengajarkan kami sesuatu melalui "kesulitan". Saat itu aku dan Mbak berada di bangku SMP, dan sedang gencar-gencarnya memakai telepon rumah berlama-lama (entah aku lupa siapa yang ku telepon saat itu, begitupun Mbak). Sampai pada akhir bulan, tagihan telepon tak terduga, jauh diatas batas normal pemakaian biasanya. Saat itu Mama Papa tak langsung membayar tagihannya, namun kami didudukkan dan diberi pengarahan bahwa Mama Papa butuh telepon rumah namun mereka tidak mampu membayar tagihan dengan jumlah yang begitu besar. 

Tebak apa yang kami lakukan. Kami masuk ke dalam kamar, berfikir apa yang harus kami lakukan untuk membayar tagihan telepon. Kami, aku, mbak, dan adek, melihat sekeliling kamar. Lalu kami menemukan buku-buku yang sudah tak terpakai namun masih banyak kertas kosongnya. Akhirnya kami menyobek kertas-kertas itu dan menjadikannya kertas buram lalu kami jual ke teman di sekolah. Nah, kejadian lucunya adalah aku ingin cepat bisa membayar telepon karena Mama Papa membutuhkan telepon itu. Aku berfikir bagaimana caranya agar kertas buram ini habis dalam sehari. Alhasil aku membagikan kertas-kertas itu pada teman-teman sekelas ku. membiarkan mereka mengambilnya, mencoretnya. dan setelah seluruh teman menggunakan kertas itu, karena kebetulan hari itu pelajaran matematika, aku meneriaki mereka "aaaaa kenapa dicoret-coret??? itu kan aku juaaaalll. ayo bayar".. haha. Dan mereka pun (dengan terpaksa) membeli kertas buram buatanku. Tak lama, kami mengumpulkan uang hasil jualan kami dan memberikannya pada Mama Papa untuk membayar telepon.

Masih banyak lagi cerita tentang perjuangan hidup bersama Mama Papa, Mbak dan Adek yang tak akan ku lupa. Menjual nasi goreng di sekolahan dengan harga 1000 rupiah, saling menyemangati selama di rumah sakit selepas kecelakaan itu. Keluarga ini tak pernah membiarkan anggotanya merasa susah tanpa senang setelahnya. Dan kini aku percaya bahwa Keluarga akan selalu ada dan akan selalu menjadi tempat untuk pulang dalam situasi seburuk apapun. Terima kasih Mama Papa, aku ada karena Mama Papa dan semoga aku dapat mempersembahkan hidupku untuk Mama Papa pula. Akan selalu ku ingat semua cerita indah kita Mbak dan Adek, aku sayang kalian. :')

2 comments:

  1. :)

    seperti juga aku... si bungsu yg tak pernah merasa jd sprti bungsu.. tak pernah merasa jadi anak manja sperti halnya anak bungsu lainnya...
    dan aku syukuri itu... cara orang tua yg tampak kejam dan cuek tapi berefek luar biasa saat kita dewasa :)

    ReplyDelete
  2. itulah kenapa dapet musibah seperti apa pun, bersyukurlah jika masih bisa berpulang dan ketemu keluarga :)

    ReplyDelete